Mahad Aly Nurul Cholil Gelar Daurah Tahqiq Manuskrip, Ajak Mahasantri Lestarikan Warisan Tulis
Bangkalan, 06 Januari – Dalam upaya melestarikan warisan intelektual umat Islam, Mahad Aly Nurul Cholil kembali menggelar daurah tahqiq manuskrip untuk yang kedua kalinya. Kegiatan yang berlangsung pada hari Senin, 6 Januari 2025, di Auditorium Mahad Aly Nurul Cholil ini diikuti oleh seluruh mahasantri semester VI.
Dengan mengusung tema “Urgensi Tahqiq Manuskrip di Era Modern”, daurah ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya tahqiq naskah dalam konteks perkembangan zaman yang semakin digital. Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasantri dapat memahami proses penelitian naskah kuno terutama karya-karya ulama madura, serta menyadari nilai pentingnya menjaga keaslian dan ketersediaan naskah-naskah tersebut bagi generasi mendatang.
Acara ini akan menjadi program akademik bagi mahasantri khususnya saat semester VI, supaya ada persiapan untuk membuat tugas akhir karya ilmiyah atau penelitiannya di akhir semester. Daurah ini bekerja sama dengan Nahdlatut Turats Ilmi Syaikhona Kholil Bangkalan, pada kesempatan kali ini pematerinya adalah Ust. Anas dan Ust. Fudoli.

Mengapa Tahqiq Manuskrip Penting?
Dalam era digitalisasi, di mana informasi begitu mudah diakses, pelestarian naskah-naskah kuno menjadi semakin krusial. Tahqiq manuskrip bukan hanya sekadar membaca tulisan kuno, tetapi juga melibatkan proses penelitian mendalam untuk:
- Memastikan keaslian naskah: Mencegah adanya pemalsuan atau perubahan isi naskah.
- Memahami konteks sejarah: Menelusuri latar belakang sejarah dan sosial saat naskah tersebut ditulis.
- Mengungkap nilai-nilai luhur: Menemukan pesan-pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam naskah.
- Menghubungkan masa lalu dengan masa kini: Menjadikan naskah sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi generasi sekarang.
Mahasantri Antusias Ikuti Daurah
Para mahasantri yang mengikuti daurah ini menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka terlihat serius mendengarkan penjelasan para pemateri dan aktif bertanya tentang hal-hal yang belum mereka pahami.
“Moh Utsman salah satu peserta daurah, mengungkapkan, “bagaimana kita tau cara membaca tulisan yang seperti ini (berantakan) dan cara yang efektif untuk menggali naskah kuno itu seperti apa, tapi memang Daurah ini sangat bermanfaat bagi saya. Saya baru menyadari betapa pentingnya menjaga warisan tulis kita. Saya berharap ilmu yang saya dapatkan hari ini dapat saya aplikasikan di masa depan.”
Ust. H. Abdul Munim Cholil, Lc., M.Ag, Naib Mudir Mahad Aly Nurul Cholil, berharap kegiatan ini dapat menginspirasi para mahasantri untuk terus menggali khazanah keilmuan Islam melalui penelitian naskah-naskah kuno terutama yang ada di Madura. “Kami ingin mencetak generasi penerus yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan dalam bidang penelitian,” ujarnya.
Dengan adanya daurah seperti ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik pada kajian naskah kuno. Hal ini akan berdampak positif bagi pelestarian warisan intelektual umat Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan.
