SEJARAH MAHAD ALY NURUL CHOLIL
Awal berdirinya PP. Nurul Cholil erat kaitannya dengan perkembangan PP. Syaikhona Moh. Cholil Bangkalan. Sejak Syaikhona Moh. Cholil bin Abd Latif wafat tahun 1925, pengasuh pondok pesantren di pangku oleh KH. Imron Cholil, namun beliau menyerahkan tugas kepemimpinannya kepada KH. Muntashor bin Muhammad. Beliau adalah salah satu santri Syaikhona Cholil yang terkenal Wara’, alim dan berbudi luhur .
Awal cerita bermula dari ungkapan dhabu, (Madura red) KH Imron bin Syaikhina Moh. Cholil pada tahun 1955. Kepada beberapa santri, salah satunya bernama Munawwir asal Bilaporah kecamatan Socah Bangkalan. Bahwa KH Imron Melihat Cahaya (Arab red: Nur) di atas kediaman KH Muntashor bin Muhammad menantunya sendiri.
Di lokasi inilah beliau memberi isyarat bahwa nantinya akan berdiri sebuah pondok pesantren besar yang di asuh oleh salah satu keturunan beliau, dan kelak putra-putri dari alumni KH. Imron akan belajar di pondok ini.
Selang beberapa waktu kemudian santri di PP. Syaikhona Moh.Cholil kian hari kian bertambah, sehingga asrama pemukiman yang ada tidak dapat menampung santri. Konon sebagian santri sampai berteduh di bawah pohon salak. Sehingga membuat Salah seorang santri minta izin kepada ( KH. Makmun bin KH. Imron dan KH. Fathur Rozi ) untuk pindah ke musholla KH. Muntashor sebelah barat PP. Syaikhona Moh. Cholil yang berukuran 4×4 M2 dan berstatus tanah waqof dari Datuk Muhammad Bin Sholeh.
Tahun 1957 dawuh KH Imron terwujud dan berdirilah sebuah pondok pesantren. Dari sinilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Nurul Cholil yang saat itu jumlah santri masih bisa di hitung dengan jari. Konon Santri pertama PP Nurul Cholil bernama Syafi’i.
Seiring dengan berjalannya sang waktu, santripun kian hari kian bertambah banyak, oleh karena itu KH. Muntashor berinisiatif untuk membangun asrama pemukiman untuk santri. Dalam hal ini KH Muntashor di Bantu Oleh H. Jawini (Juaini) Pakaan Laok dan H. Abd Jalil Sattoan Bangkalan. Pembangunanpun di mulai dan berdirilah Asrama berukuran 8 x 12 M2
tersekat menjadi 4 bilik yang selanjutnya di sebut cangkruk ( sebutan untuk tempat beristirahat dan berfikir). Penyebutan ini di ilhami dari dawuh istri KH. Muntashor yakni Nyai Hj. Nadhifah Imron melihat begitu kecilnya asrama yang ada.
Dawuh KH. Imron pun berlanjut, seraya mengatakan bahwa kelak di lokasi musholla KH. Muntashor akan berdiri pondok pesantren besar, hanya saja sekarang jumlah santrinya masih sedikit dan asramanya berbentuk cangkruk. Sebagai lembaga pendidikan salaf, pondok pesantren ini mengadopsi system belajar bandongan dan sorogan, ternyata system tersebut mampu memikat animo masyarakat untuk menuntut ilmu dan mengaji ke pondok yang di asuh KH muntashor ini. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengikuti kegiatan bandongan dan sorogan tersebut, diantaranya terdapat KH Thobroni bin KH. Abd Aziz Sebaneh, beliau sangat akrab sekali dengan KH Muntashor.
Pada era 70-an istilah cangkruk berubah menjadi Pondhuk Jhubara’ (Pondok Barat) dan asrama santri bertambah 21 bilik dengan berupa bangunan kayu yang menjadi ciri khas pesantren kala itu. Pada tahun 1977 mendung duka menyelimuti Bangkalan, KH. Muntashor selaku pengasuh dan pendiri pondok pesantren meninggal dunia, secara otomatis tongkat estafet kepemimpinan di lanjutkan oleh putra tunggal beliau yakni KH. Zubair Muntashor. Dan sejak saat itu beliau dengan telaten mengadakan pembenahan diberbagai sektor dan disesuaikan dengan tuntutan zaman, namun tetap dalam kriteria salafiyah, terutama di sektor pendidikan dan kedisiplinan.
System pendidikan di bagi menjadi 2 bagian
- Melanjutkan Sistem Sorogan dan bandongan
- Madrosiyah Klasikal plus jam wajib belajar, dalam hal inisantri PP. Nurul Cholil mengikuti kegiatan sekolah diniyahnya di Pondok Pesantren Al-Kholiliyah An-Nuraniyah Demangan Timur.
Perbaikan System kedisiplinan santri
- Semua santri di wajibkan sholat berjamaah
- Larangan keluar malam dari pondok pesantren
Sejak tahun 1983 sebutan Pondhuk Jhubara’ (Pondok Barat) berubah nama menjadi PP. Nurul Cholil Al-Muntashori atas inisiatif dari KH. Zubair Muntashor. Dan oleh sebagian besar santri dan alumni pada waktu itu, nama ini di asumsikan sebagai tindak lanjut dari kejadian dan dawuh KH. Imron bin Syaichona Moh.Cholil jauh sebelum pondok pesantren ini berdiri. Dan sejak itu pula, PP. Nurul Cholil Al-Muntashori secara kuantitas mengalami peningkatan, jumlah santri berkembang dengan pesat, bahkan pada tahun 1986, PP. Nurul Cholil Al-Muntashori mendirikan Pondok Pesantren Putri bernama PP. Putri Nurul Cholil. Hal itu berawal dari kesadaran dan animo masyarakat tentang pentingnya pendidikan agama untuk putra putri mereka dan sesuai dengan kepedulian Pengasuh terhadap peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) lewat pendidikan agama.
Pondok pesantren terus berpacu untuk membenahi managemennya, pemilihan pengurus periode 1989-1990 menghasilkan keputusan untuk melengkapi struktur organisasi kepengurusan dan melengkapi personalia. Secara struktural kepengurusan ini lebih lengkap dari periode sebelumnya, dengan fasilitas kantor sederhana, para pengurus menjalankan tugas penuh khidmat walaupun secara administrative masih jauh dari sempurna. Saat itu jumlah santri putra + 500 plus 200 santri putri.
Kemudian pada tahun 1992 nama PP. Nurul Cholil Al-Muntashori di perpendek menjadi
PP. Nurul Cholil (atas usul Ibu Nyai Hj. Musri’ah Anwar kepada KH. Zubair Muntashor) di hadapan salah seorang santrinya. Setelah mendapat persetujuan pengasuh, nama pondok pesantren ini menjadi PP. Nurul Cholil hingga sekarang. Tradisi yang berkembang di Pondok Pesantren Nurul Cholil, berprinsip bahwa pesantren dan Al Qur’an serta buku-buku literatur bahasa Arab merupakan hal yang urgent dan tidak mungkin dihilangkan jika ingin membentuk generasi muda yang Qur’ani dan fasih berbahasa Arab. Al Qur’an harus ditanamkan dalam hati mereka agar menjadi petunjuk dan pedoman hidup.
Pentingnya memahami bahasa Arab di Pondok Pesantren Nurul Cholil ini menunjukkan bahwa pondok tersebut betul-betul menginginkan generasi yang memahami Islam secara original langsung dari sumbernya, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada para shahabat dan generasi berikutnya. Islam selanjutnya berkembang ke berbagai negara di seluruh dunia.
Sebagaimana pesantren zaman itu, pada awalnya pengajaran di Nurul Cholil menggunakan sistem bandongan dengan pengantar bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, ada syarat dari mahasantri untuk menghafal 1 Juz Al Qur’an dan Nadham Alfiyah 100 Bait untuk input menjadi mahasantri di Ma’had Aly Nurul Cholil.
